Showing posts with label autisme. Show all posts
Showing posts with label autisme. Show all posts

8 Tips Mengajar Membaca Pada Anak dengan Cerebral Palsy

Learn to Read 1

Mengajarkan anak yang mempunyai kebutuhan khusus seperti anak cerebral palsy memang susah susah gampang, orang tua kerap kali bingung dalam mengajarkan serta mengarahkan si anak dalam hal membaca dan akan mengalami hambatan dalam berbagai fungsi tubuh, mulai dari keterampilan motorik sampai membaca.Apabila Anda ingin mengajarkan cara membaca pada anak dengan cerebral palsy, ikuti langkah-langkah di bawah ini:

1. Lakukan latihan pernapasan sebelum mulai belajar, posisikan anak duduk tegak sehingga udara bisa masuk ke paru-parunya.Tempatkan tangan Anda di perut atau di atas tulang rusuk anak. Pandu anak menghirup dan membuang udara dengan mengontraksikan otot-otot setiap kali bernapas.Hal ini akan membantu anak lebih rileks dan tidak merasa gugup.

2. Saat melakukan teknik-teknik pernapasan ini, anjurkan anak untuk menutup matanya dan membayangkan sesuatu yang indah.Hal ini juga akan membantu anak lebih rileks dan menjaga pikirannya terfokus.

3. Letakkan beberapa benda di depan anak dan ulangi nama-nama benda tersebut secara perlahan sehingga otak anak akan menerima dan mengingat nama-nama benda tersebut pada saat melihatnya di waktu yang lain.Ulangi ini setidaknya empat kali secara perlahan.

4. Seiring dengan memperlihatkan objek tersebut, gunakan kata yang ditulis sehingga anak juga dapat mengidentifikasi tulisan dengan objeknya.Untuk menambahkan stimulasi lebih ke otak anak, ucapkan kata-kata tersebut secara perlahan.

5. Gunakan kata-kata dan benda-benda yang dapat digunakan dalam kalimat jika memungkinkan.Latihan pengulangan kata dan benda tersebut tidak dapat berlangsung dalam waktu semalam. Anak umumnya akan mengingat beberapa dari kata dan benda dalam waktu setidaknya dua minggu.

6. Belilah buku yang Anda rasa mudah bagi anak. Jika tidak yakin apa yang cocok bagi anak, mintalah bantuan kepada petugas toko buku.

7. Ulangi langkah-langkah satu sampai lima. Dengan mengulangi langkah-langkah ini, Anda dapat menggabungkan kata-kata secara bersamaan untuk membentuk kalimat.Bacakan buku perlahan-lahan kepada anak setiap hari selama minimal dua minggu. Lakukan satu buku pada suatu waktu.

8. Ulangi langkah ketujuh, tapi kali ini minta anak untuk mengulang kata-kata setelah Anda. Hal ini akan merangsang otak anak dan mendorong mereka untuk ingin membaca.[]

Gerakan brain gym untuk mengatasi kebiasaan meludah


Sebenarnya gerakan Brain Gym ini bisa digunakan untuk anak dengan kebutuhan khusus, hanya pada kasus tsb, Casey, adalah seorang anak yang tidak mempunyai refleks menelan, sehingga terus menerus meneteskan air liur. Gurunya melakukan PPL-D atau Pembaruan Pola Lateralitas Dennison. PPL-D adalah serangkaian gerakan sederhana yang sangat bagus, yang mengkoordinasikan kedua sisi tubuh dengan tujuan mengajarkan tentang menyebrangi garis-tengah tubuh. Hal menyeberangi garis-tengah kinestetik-auditori-visual ini meningkatkan aktivitas otak dan pengaturan seluruh tubuh dengan merangsang perkembangan alami seperti pada bayi di masa merangkak.baca selengkapnya…
Informasi lebih jauh tentang PPL-D ada di buku Edu-K For Kids, edisi Bhs Indonesia diterbitkan Grasindo.
Dengan melakukan PPL-D, Casey mendapat kemajuan yaitu 25 menit bisa menahan keluarnya air ludah. PPL-D ini dikerjakan dalam 5 menit. Nah, gerakan Brain Gym yang bertujuan menyeberangi garis-tengah tubuh, antara lain adalah sbb:

1. Burung Hantu Reseptif : terapis berdiri di belakang anak, dan meremas bahu anak. Anak dilatih menoleh ke kiri dan ke kanan.
2. Tombol Angkasa : terapis meletakkan kedua tangan pada garis tengah tubuh anak (satu pada garis tengah depan, persisi di atas bibir atas), yang lain pada garis tengah belekang persis di atas tulang ekor. Anak akan merasa lebih nyaman bila melakukannya sambil menahan pada bola besar di mana titik yang ditahan lebih tinggi pada garis-tengah belakang.
3. Pasang Telinga : terapis menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk menarik kedua telinga anak dengan lembut ke luar dan melepas gulungannya, dimulai dari puncak telinga dan dengan lembut memijatnya sepanjang lengkungannya, berakhir di cuping bawah. Ulangi tiga kali atau lebih.
4. Gerakan Silang: terapis membimbing anak sambil berbaring untuk lebih relaks. Terapis secara bergantian menekan pinggul dan bahu yang berlawanan di bagian depan atau belakang tubuh anak. Bisa dilakukan sambil anak duduk.
5. 8 Tidur : terapis membimbing anak menggerakkan tangannya menulis angka 8, dimulai dari titik tengah ke arah kiri atas, melingkar ke kiri bawah, naik ke titik tengah lagi, dan terus ke kanan atas,
berputar ke kanan bawah, kembali ke titik tengah, dst. 8 Tidur dapat digambar besar, atau di pasir, atau digambar pada punggung murid.
6. Coretan Ganda : terapis berdiri di belakang anak dan membimbing tangan dan lengannya melalui beberapa gerakan sedergana. Terapis mengucapkan “atas, keluar, masuk dan Turun sambil memandu anak menggambar persegilingkaran, atau bentuk lain dengan kedua tangan secara serempak. Ini mengajarkan anak mengacu lepada garis-tengah visual/kinestetik nya untuk acuan arah. Terapis bisa berhenti membimbing anak apabila kedua tangan anak sudah bisa bergerak bersama dengan mudah. Coretan ganda dapat digambarkan pada punggung anak untuk secara serempak menggiatkan kedua belahan otak dan menstimulasi kesadaran.
7. Mengisi Energi: anak bertumpu pada perut, sambil menyangga kepala dan dadanya dengan menaruh bobotnya pada lengan bawah. Segulung handuk diletakkan di bawah otot triseps (anak berbaring pada perut, handuk dipeluk antara kedua lengannya) bertujuan memberi dukungan yang dibutuhkan.

Sumber: Message from Aan Anwar to peduli autis putra kembara.org



Gerakan brain gym untuk perkembangan bicara

1. Gerakan Meregangkan Otot :
yaitu kemampuan berguling dari posisi tiarap sampai ke posisi telentang, dan sebaliknya, kemampuan membedakan daerah tubuh dan memulai gerakan dari satu bagian tubuh.
Fungsinya: membantu bicara, pemahaman dan halangan lain yang terkait dengan bicara, baca selengkapnya…
2. Burung Hantu Reseptif:
terapis berdiri di belakang si anak dan meremas bahu si anak sambil menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Fungsinya: integrasi tengkuk, integrasi visi dan mendengarkan dengan gerakan seluruh tubuh, agar bisa mensejajarkan kepala dan leher dengan lebih baik, memperhatikan, membedakan dan persepsi auditori, memori, kemampuan berpikir dan bicara.
3. Mengaktifkan Tangan:
terapis mengangkat kedua lengan anak lurus ke atas, menahan dengan lembut pada kedua sisi kepalanya, memanjangkannya, dan mengangkatnya sedikit naik dari tulang iga.
Fungsi: mengurangi ketegangan motorik kasar dalam bahu, dada, lengan dan tangan, koordinasi mata-tangan, cara bicara ekspresif dan kemampuan berbahasa, pernafasan lebih baik
4. Lambaian Kaki:
terapis memegang bagian bawah lutut (origo) dan di bagian tumit (insertio) secara bersamaan dengan posisi direntangkan (seperti posisi sila, tetapi kaki satunya menapak di lantai dan si anak berdiri, terapis menahan di belakang). Kemudian kakinya digerak-gerakkan seperti sedang melambai, ulangi dengan kaki lainnya.
Fungsi: kemampuan untuk menahan atau memulai sendiri, menahan berat secara lebih baik, mempertinggi ekspresi diri, dan cara bicara yang ekspresif serta keterampilan berbahasa
5. Pompa Betis:
anak berdiri pada jarak satu lengan dari meja dan menyandar ke dean pada meja sambil meletakkan telapak tangan di atas meja. Satu kaki ditarik lurus ke belakang sampai jari jari kakinya menyentuh lantai dan tumitnya terangkat. Terapis memegangi pergelangan kaki anak sambil dengan lembut menekan tumit anak ke lantai. Lalu tumit diangkat dan proses menekan mengangkat diulangi beberapa kali untuk memanjangkan otot betisnya.
Fungsi: kemampuan untuk menahan dan memulai sendiri, menahan bobot, mempertinggi kesadaran sikap tubuh dan ekspresi diri, cara berbicara yang ekspresif dan kemampuan berbahasa
6. Sakelar Otak:
dengan satu tangannya, terapis dengan kuat memijat jaringan lunak di bawah tulang selangka anak, kiri dan kanan tulang dada, lalu terapis meletakkan tangannya yang lain pada pusar si anak.
Cara lain: terapis dengan perlahan menggerakkan sebuah pena dengan memegangnya dari jarak 12 sampai 18 inci dari hidung si anak, dari kiri bidang visual anak ke kanan, dan kembali lagi. Diulang. Fungsi: mengirim pesan dari belahan otak kanan ke sebelah kiri tubuh, dan sebaliknya, menerima oksigen lebih banyak, perbaikan koordinasi visual, peningkatan kemampuan berpijak dan memusat.
7. Menguap Ber Energi;
terapis menekan atau dengan lembut memijat sembarang titik yang tegang pada rahang anak khususnya pada tepi geraham bagian atas dan bawah, kemudian bersama sama anak, terapis mengeluarkan bunyi desahan (menguap) yang membuat relaks.
Fungsi: perbaikan fungsi motor untuk otot otot yang terlibat dalam proses mengunyah dan bersuara, peningkatan relaksasi dan visual, perbaikan komunikasi yang ekspresif dan verbal, peningkatan kemampuan memilah informasi penting.
8. Pasang Telinga;
terapis menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk menarik kedua telinga anak dengan lembut keluar dan melepas gulungannya dimulai dari puncak telinga dipijat lembut sepanjang lengkungannya, berakhir di cuping bawah (3 titik atas tengah bawah). Ulangi 3 x atau lebih.
Fungsi: membedakan persepsi, memori auditori, mendengarkan suaranya sendiri saat berbicara, daya ingat jangka pendek, bicara dalam hati dan keterampilan berpikir, mendengar dengan kedua telinga secara bersamaan.


Sumber buku “I am The Child” alih bahasa: Aan Anwar